10 Tips Memilih Printer 3D untuk Pemula

By | April 14, 2019
Ilustrasi memilih printer 3D

Printer 3D adalah perangkat yang digunakan untuk membuat objek tiga dimensi. Misalnya mainan, alat, model bagian pesawat, dan lainnya dari file 3D digital.

Perangkat ini 10 tahun lalu tidak digunakan di luar komunitas profesional. Harganya pun mahal karena dirancang untuk keperluan industri sehingga tidak terjangkau masyarakat umum.

Untunglah, saat ini printer 3D bisa dimiliki masyarakat umum, dengan harga yang kompetitif, perawatan yang mudah, dan punya banyak fitur. Tak heran, pasar dibanjiri printer 3D model-model baru setiap bulannya.

Dari banyaknya printer 3D di pasaran, bagaimana Anda memilih printer 3D yang sesuai dengan kebutuhan Anda? Bagaimana kalau Anda baru mengenal printer 3D?

Jangan khawatir. Berikut ini hal-hal penting yang perlu Anda ketahui dalam memilih printer 3D.

1. Teknologi Cetak 3D

Hal pertama yang perlu diketahui tentang printer 3D adalah teknologi pencetakan. Kenapa? Karena tidak semua printer 3D menggunakan teknologi cetak yang sama.

Sebagian besar printer rumah 3D menggunakan proses yang disebut Fused Deposition Modeling (FDM). Teknologi pencetakan ini kadang-kadang disebut juga Fused Filament Fabrication (FFF) atau Plastic Jet Printing (PJP).

FDM adalah proses pembuatan objek tiga dimensi dengan meletakkan lapisan berturut-turut dari bahan tertentu (biasanya plastik) lapis demi lapis hingga seluruh objek dibuat. Lapisannya seperti penampang horizontal objek yang dibuat oleh perangkat lunak pemodelan 3D. Pembentukannya melalui ekstrusi bahan plastik dengan menggunakan nozzle panas yang mengeras hampir seketika setelah ekstrusi.

Selain FDM, ada juga printer 3D yang menggunakan proses yang disebut Stereolithography (SLA). Teknologi cetak ini menggunakan laser untuk memadatkan lapisan resin fotosensitif untuk membuat objek tiga dimensi.

2. Bahan Cetak

Hal berikutnya yang perlu dipertimbangkan dalam memilih printer 3D adalah bahan cetak. Sebagian besar printer 3D menggunakan spool atau koil dari filamen PLA (polylactic acid) atau ABS (acrylonitrile butadiene styrene). Kedua bahan ini tersedia dalam semua jenis warna.

Apa perbendaan PLA dan ABS?

PLA menghasilkan ketebalan lapisan yang lebih tipis, sudut cetak yang lebih tajam dan tersedia dalam berbagai warna yang membuatnya disukai banyak masyarakat umum. Sementara itu,  ABS fleksibel, kuat, dan memiliki ketahanan suhu tinggi sehingga lebih disukai para profesional.

Meski demikian, perbedaan utama antara PLA dan ABS adalah PLA berasal dari sari pati jagung sehingga lebih ramah lingkungan. Tak hanya itu, PLA juga bisa tahan lama sehingga Anda tidak perlu khawatir objek 3D Anda cepat rusak.

Selain PLA dan ABS, bahan cetak printer 3D bisa juga:

  • Nilon (yang paling populer adalah Nilon 618)
  • Resin
  • Kayu
  • HIPS (High Impact Polystyrene filament)
  • Campuran stainless steel dan perunggu

3. Build Volume (Print Area)

Semakin besar print area, semakin besar objek yang bisa dibuat di dalam printer 3D. Saat ini, print area terbesar dimiliki printer 3D komersial berbasis teknologi cetak SLA. Sehingga memungkinkan desainer dan insinyur untuk mencetak hingga 1 meter kubik objek.

Bagaimana dengan printer 3D untuk masyarakat umum? Sebagian besar print areanya tidak melebihi 380 milimeter kubik. Ukuran ini mencerminkan lebar kali kedalaman kali tinggi. Oh ya, satuannya biasanya dalam inci atau milimeter.

4. Kecepatan Pencetakan

Printer 3D ukuran desktop dengan teknologi FDM memiliki kecepatan cetak dari 40 milimeter per detik hingga 150 milimeter per detik. Artinya, printer tersebut dapat mengekstrusi filamen cair 40-150 milimeter setiap detiknya.

Mohon diketahui, kecepatan pencetakan ini secara langsung tergantung pada resolusi pencetakan. Semakin tinggi resolusinya, semakin lambat kecepatan dan sebaliknya.

Jenis bahan yang digunakan dan tingkat kerumitan cetakan juga dapat memengaruhi kecepatan pencetakan. Sebagai contoh, objek cetak dengan banyak sudut dan tepian akan lebih lambat dicetak daripada objek berbentuk bola.

5. Resolusi Lapisan

Sama halnya dengan fotografi, resolusi objek cetak akhir di printer 3D dapat dipilih. Dengan demikian, Anda dapat memilih untuk membuat objek resolusi tinggi atau rendah.

Objek resolusi tinggi cenderung relatif halus, memiliki lapisan yang sangat tipis, dan kadang-kadang sulit dilihat setiap lapisannya. Sementara itu, objek resolusi rendah memiliki lapisan lebih tebal dan setiap lapisannya mudah dilihat.

Beberapa printer 3D memungkinkan Anda untuk memasukkan nilai resolusi lapisan (minima dan maksima). Ada juga printer 3D yang memberikan tiga opsi resolusi, yaitu rendah, sedang, dan tinggi.

6. Extruder

Pada printer 3D dengan teknologi FDM, extruder melibatkan nosel pencetakan yang dipanaskan. Nozzle adalah bagian yang bertanggung jawab untuk melelehkan dan mengekstrusi bahan cetak). Selain itu, melibatkan juga motor yang memaksa filamen ke dalam nozzle, sensor suhu, dan sistem pendingin untuk motor itu sendiri.

Satu aspek yang penting untuk dipertimbangkan adalah berapa banyak extruder yang tersedia di printer 3D. Lebih dari satu extruder akan memungkinkan Anda untuk mencetak objek dengan warna dan atau bahan yang berbeda.

Sebagian besar printer 3D di pasaran memiliki satu nosel per ekstruder. Pengecualiannya adalah printer CEL Robox 3D yang memiliki dua nosel dengan satu ekstruder. Sistem nosel ganda ini dapat meningkatkan kecepatan cetak hingga 300%.

7. Konektivitas

Sebagian besar printer 3D mengandalkan koneksi USB (kebanyakan tipe B) dan komputer untuk mencetak objek menggunakan perangkat lunak pengiris. Printer tertentu memiliki kemampuan untuk mencetak melalui Ethernet atau secara nirkabel menggunakan koneksi WiFi (dari PC atau bahkan ponsel).

Sangat menarik untuk mengetahui bahwa beberapa printer 3D menyertakan slot kartu USB atau SD. Sehingga tidak harus bergantung pada komputer eksternal selama proses pembuatan objek.

8. Assembled atau Kit

Beberapa produsen printer 3D memberi pengguna kesempatan untuk merakit printer 3D sendiri tanpa banyak kesulitan. Lebih enak, bukan?

Meski demikian, tidak semua printer 3D dirakit, beberapa di antaranya dijual dalam Kit DIY seperti Printer 3D Makeblock Constructor. Pendekatan ini sering menghasilkan penghematan biaya karena pabrikan tidak perlu merakit, mengkalibrasi, dan menguji printer.

9. Perangkat Lunak Pencetakan 3D

Sebagian besar printer 3D menyediakan perangkat lunak pencetakan 3D sendiri (atau perangkat lunak Pengiris) yang dapat membuka dan mencetak file STL. Ini adalah file standar yang berisi informasi (serangkaian segitiga dan koordinat XYZ mereka) untuk menghasilkan objek fisik lapis demi lapis.

Seperti printer 2D tradisional, dengan perangkat lunak pencetakan 3D Anda dapat memutar, menskalakan, dan mengubah ukuran model. Anda juga dapat memilih pengaturan cetak 3D yang berbeda seperti ketebalan lapisan dan jenis isian.

Namun, untuk mendesain dan membuat objek Anda sendiri, Anda mungkin memerlukan perangkat lunak pemodelan 3D. Ada berbagai macam perangkat lunak pemodelan 3D baik gratis maupun komersial seperti 123D Design, Sketchup, dan Autodesk Inventors Fusion.

10. Harga

Memilih Printer 3D layaknya memilih perangkat rumah tangga. Itu akan tergantung pada anggaran yang siap Anda investasikan.

Mengenai printer 3D desktop, kisaran harga mulai dari 200 dolar AS hingga 4.000 dolar AS. Semakin mahal harganya, jelas semakin bagus kualitas cetakan dan lebih banyak fiturnya.

Kabar baiknya,dengan meningkatnya popularitas printer 3D dan persaingan ketat antara produsen, harga printer 3D diperkirakan akan turun sementara kualitasnya akan meningkat.

Penutup

Memilih printer 3D tidak semudah membalikan tangan. Selain harganya yang relatif mahal, banyak juga pilihan printer 3D di pasaran sekarang ini.

Jadi, telitilah sebelum Anda membelinya. Bandingkan 10 hal di atas di setiap printer 3D yang Anda lihat. Dengan demikian, Anda bisa mendapatkan printer 3D yang sesuai dengan kebutuhan dan dana Anda.

Artikel Terkait:

  • No Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *